Sistem Pemantauan Kualitas Air VENAMBAK dalam Budidaya Kerapu di Lamongan bersama Komdigi
By Zefanya•29 Juni 2026
Akuakultur berbasis data mendukung peningkatan produktivitas petambak skala kecil. Dalam acara Bimbingan Teknis (BIMTEK) yang diselenggarakan di Kabupaten Lamongan pada tanggal 11 Juni 2026, Venambak kembali menegaskan komitmennya untuk membantu para petambak beralih menuju metode budidaya berbasis data. Melalui pendekatan ini, pengambilan keputusan di lapangan diharapkan menjadi lebih cepat, akurat, dan efisien.
Perwakilan Venambak, Gelardi Siswantara, dalam pemaparannya menjelaskan bahwa kunci utama keberhasilan digitalisasi tambak adalah kemudahan akses data.
"Venambak mendorong petambak agar berbudidaya berbasis data. Untuk memudahkannya, kami berusaha membuat data-data budidaya tersebut menjadi data digital yang bisa diakses dari berbagai platform, sehingga membantu petambak untuk menganalisa dan mengambil keputusan lebih cepat," ujar Gelardi.
Transformasi Digital pada Biaya Operasional (OPEX)
Untuk merealisasikan ekosistem yang terintegrasi, Venambak berfokus pada digitalisasi komponen-komponen yang memakan Biaya Operasional (OPEX) terbesar dalam proses budidaya. Saat ini, Venambak telah berhasil mendigitisasi tiga aspek krusial:
- Konsumsi Pakan (Opex Terbesar): Pemantauan data harian dan real-time difasilitasi melalui teknologi Feederve.
- Konsumsi Energi Listrik (Opex Kedua): Penggunaan listrik harian dari perangkat seperti kincir dan venjet dipantau secara presisi melalui BOXVE.
- Kualitas Air Kolam (Faktor Penentu): Karena kelangsungan hidup dan kenyamanan biota (ikan maupun udang) sangat bergantung pada kondisi air, Venambak menghadirkan solusi empiris melalui SENSORVE dan BOXVE WQMS (Water Quality Monitoring System).
Penerapan BOXVE WQMS dan SENSORVE di tambak Kerapu
Parameter kualitas air seringkali menjadi "kartu as" dalam budidaya akuakultur. Menyadari hal ini, Venambak merancang ekosistem khusus melalui perpaduan SENSORVE dan BOXVE WQMS.
BOXVE WQMS terintegrasi langsung dengan SENSORVE, perangkat sensor cerdas kami yang membaca parameter krusial kolam (pH, Suhu, Salinitas, DO, TDS) secara real-time di lapangan, sementara BOXVE (Smart Controller) WQMS berfungsi sebagai otak sistem yang mendigitalisasi dan mengirimkan data tersebut secara empiris. Dengan hadirnya BOXVE WQMS, petambak tidak perlu lagi menebak-nebak kondisi kolam. Fluktuasi parameter air terekam jelas, memastikan biota budidaya berada di lingkungan yang paling optimal.
Make It Simple dan Terintegrasi dalam Satu Aplikasi
Kecanggihan teknologi Venambak tidak lantas membuatnya rumit untuk dioperasikan. Seluruh data dari Feederve, BOXVE Aerator, hingga BOXVE WQMS dan SENSORVE ditarik dan disajikan secara terpusat di dalam satu Aplikasi Venambak. Petambak tidak perlu repot berpindah-pindah aplikasi untuk melakukan analisa komprehensif.
Lebih lanjut, Gelardi menekankan bahwa desain peralatan Venambak memegang teguh kaidah "make it simple".
"Hampir semua BOXVE kita—baik di feeder, aerator, maupun WQMS—cara kerjanya sangat sederhana. Tinggal nyalakan dan koneksikan, langsung dapat dikendalikan via aplikasi dan data otomatis tersaji," tambahnya.
Sebagai solusi atas tantangan infrastruktur di area pertambakan yang seringkali jauh dari jangkauan sinyal, Venambak juga telah mengantisipasi kondisi blank spot. Jika petambak berada di zona black out internet, semua peralatan Venambak dipastikan tetap dapat difungsikan secara offline, menjaga operasional budidaya agar tidak terputus di tengah jalan.
