Panen Perdana Nila Bioflok Mojokerto: Sinergi Lintas Sektor untuk Keberlanjutan Akuakultur
By Zefanya•29 Mei 2026
Program AgResults Indonesia Aquaculture Challenge Project yang dikelola oleh WWF Indonesia sukses menggelar kegiatan panen pilot project budidaya ikan nila dengan sistem bioflok pada Selasa (19/5). Bertempat di KDMP Gempolkerep, Kabupaten Mojokerto, kegiatan ini bertujuan untuk memperluas akses teknologi budidaya dan pendampingan bagi petambak skala kecil.
Kegiatan panen ini merupakan kelanjutan dari tahap persiapan yang telah dirumuskan sejak 18 Februari 2026. Pelaksanaannya melibatkan kolaborasi aktif antara WWF Indonesia, PT Venambak Kail Dipantara, Prima Eko, PT Bumiwirasta, PT Kisaran Aquaculture, dan CV Republik Vannamei, serta didukung penuh oleh Penyuluh Perikanan DKP setempat.
Secara teknis, pilot project di Mojokerto ini merupakan variasi model budidaya yang melengkapi demonstrasi sebelumnya di Pati (yang menggunakan kolam tanah). Pada proyek ini, uji coba dilakukan menggunakan kolam bundar berdiameter 4 meter. Penggunaan kolam bundar ini bukan berarti menggantikan kolam tanah, melainkan menawarkan variasi budidaya yang lebih fleksibel dan berpotensi memiliki kedekatan lokasi dengan calon pembeli (mengusung konsep kolam urban). Dengan padat tebar 1.100 ekor ikan nila, kolam bundar ini juga dirancang untuk memberikan sirkulasi air dan sistem aerasi yang lebih terkontrol, sehingga stabilitas kualitas air tetap terjaga di tengah kondisi budidaya yang intensif.
Dalam sistem bioflok, ketersediaan oksigen terlarut (Dissolved Oxygen) merupakan kebutuhan utama yang sangat krusial. Kehadiran oksigen yang stabil secara langsung memengaruhi keseimbangan mikroba pembentuk flok, laju metabolisme ikan, hingga tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate). Menjawab kebutuhan tersebut, Teknologi Venambak turut berkontribusi mendukung sistem aerasi guna memastikan kadar oksigen terlarut di dalam kolam selalu berada di titik optimal. Dukungan teknologi ini ditujukan agar target Average Daily Growth (ADG) ikan dapat tercapai maksimal, dengan tetap memprioritaskan efisiensi operasional dan kesehatan ekosistem perairan.
Acara seremonial panen raya ini turut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya jajaran Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Pusluh KP) KKP, Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Mojokerto, serta perwakilan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) setempat.
Melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan ini, capaian inovasi akuakultur yang telah teruji diharapkan dapat terintegrasi dengan program-program pemerintah. Sinergi ini menjadi langkah konkret dalam membangun model budidaya yang berkelanjutan, efisien, dan memberikan dampak terukur bagi kesejahteraan petambak lokal.
