Lamongan, 3 November 2026. Teknologi digital dan kecerdasan buatan kini tidak hanya hadir di kota besar, tetapi sudah bekerja di tambak dan lahan pertanian desa. Hal ini terlihat dalam Panen Raya Program Fasilitasi Pemanfaatan Teknologi Digital Sektor Pertanian dan Perikanan yang digelar PT Venambak Kail Dipantara (Venambak), Habibie Garden, dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) dan petambak Kampung Kerapu di Tambak Kerapu Pokdakan Tiger Club, Desa Labuhan, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Selasa (3/11/2026).
Di sektor perikanan, panen raya ini menjadi puncak Program Fasilitasi Pemanfaatan Teknologi Digital dan pendampingan budidaya melalui penerapan teknologi IoT Venambak, yaitu smart aerator Venjet dan sensor kualitas air WQMS (Water Quality Monitoring System). Hadir dalam acara ini Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid beserta jajaran Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Anggota Komisi VI DPR RI Ahmad Labib, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, Dinas Perikanan Kabupaten Lamongan, serta CTO Venambak Gelardi Siswantara, Aquaculture Project Manager Venambak Nurfina Aini, dan tim Venambak lainnya.
Kampung Kerapu Menuju Budidaya Berbasis Data
Desa Labuhan dikenal sebagai Kampung Kerapu, dengan sekitar 350 hektare tambak yang dikelola enam kelompok pembudidaya. Melalui program fasilitasi Komdigi, 100 pembudidaya kerapu menerima 150 unit smart aerator Venjet yang dilengkapi pelampung, box kontrol BOXVE, sensor WQMS, modem internet, dan router. Pembudidaya dapat menyalakan, mematikan, dan menjadwalkan aerator dari aplikasi, memantau konsumsi listrik, serta membaca kadar oksigen terlarut (DO) dan parameter kualitas air lainnya secara real-time dari ponsel.
Seluruh teknologi Venambak, mulai dari sistem mekanis, sistem elektronik, hingga perangkat lunaknya, dirancang dan diproduksi in-house oleh talenta engineer dalam negeri.
Terhubung, Tumbuh, Terjaga
Menteri Meutya Hafid mengapresiasi kontribusi petambak Lamongan terhadap program prioritas Presiden di bidang ketahanan pangan, sekaligus menegaskan bahwa manfaat digitalisasi harus sampai ke daerah. "Digitalisasi bukan barang yang menjadi hak kota-kota besar saja," ujarnya.
Ia menilai digitalisasi budidaya kerapu dengan teknologi IoT karya anak bangsa ini sejalan dengan tiga pilar utama Kompas Transformasi Digital Nasional:
- Terhubung. Digitalisasi diawali dengan akses internet. Program ini memfasilitasi koneksi internet hingga ke kolam kerapu agar perangkat dan aplikasi dapat bekerja.
- Tumbuh. Implementasi smart aerator Venjet dan WQMS berjalan sejak Mei 2026, diawali bimbingan teknis tentang penggunaan alat, aplikasi, dan perawatannya. Setelah itu, pendamping lapangan Venambak mendampingi 100 pembudidaya selama enam bulan agar mereka mampu memahami teknologi IoT dan mengambil keputusan budidaya yang tepat secara mandiri.
- Terjaga. Setelah masa pendampingan, pembudidaya diharapkan dapat merawat dan menggunakan teknologi secara mandiri untuk meningkatkan produktivitas (tingkat kelangsungan hidup atau SR dan pertumbuhan bobot harian atau ADG) serta efisiensi (biaya pakan dan FCR).
Ramah Gender, Bisa Dipakai Siapa Saja
Menteri Meutya juga mengapresiasi aplikasi Venambak yang ramah gender dan mudah digunakan oleh siapa pun. Perangkat Venambak ringan, dan pengaturan aerator serta pemantauan kualitas air cukup dilakukan lewat ponsel, bahkan dari rumah, tanpa harus mengangkat beban berat atau terus-menerus turun ke kolam. Ia berharap teknologi ini mendorong lebih banyak perempuan terjun sebagai pembudidaya.
Manfaat ini dirasakan langsung oleh Ibu Mia Claudita, pembudidaya kerapu perempuan sekaligus Ketua Pokdakan Makmur Bersama di Desa Labuhan.
“Teknologi aerator berbasis IoT sangat memudahkan petambak perempuan dan menghemat waktu, karena pemantauan bisa dilakukan lewat aplikasi dari mana saja,” ujarnya.
Menurut Mia, aerator yang bekerja dari dasar kolam membantu sisa pakan terurai dan menekan kadar amonia secara alami. Ikan pun mendapat oksigen maksimal sehingga bobotnya tumbuh lebih cepat. Sensor kualitas air juga membantu pembudidaya mengetahui kondisi kolam, kapan harus menghentikan pemberian pakan, dan tindakan pencegahan apa yang perlu dilakukan, sehingga penggunaan pakan lebih hemat.
Mengenalkan Autonomous Venjet Berbasis AIoT
Dalam panen raya ini, Venambak juga mengenalkan Autonomous Venjet, aerator dinamis berbasis AIoT yang ditenagai baterai dan panel surya sehingga dapat beroperasi tanpa listrik PLN. Dengan kecerdasan buatan, Autonomous Venjet mampu menghindari halangan dan mendeteksi titik kolam yang kekurangan oksigen. Pembudidaya cukup menentukan titik tujuan (waypoint) di peta pada ponsel, lalu sistem path planner merancang jalur menuju titik tersebut. Lebih lanjut, CTO Venambak Gelardi Siswantara menjelaskan bahwa jika ada jembatan antara teknologi digital dan ketahanan pangan, Venambak ingin menjadi baut-baut penopang yang menjaga kekokohan jembatan tersebut.
Setelah sekitar lima bulan penerapan sejak Mei 2026, pembudidaya mulai merasakan hasilnya. Angka kematian ikan menurun, pertumbuhan ikan lebih cepat, dan pengelolaan tambak lebih terukur karena keputusan harian didukung data dari sensor WQMS.
Suara Pembudidaya dalam Dialog Interaktif
Sesi Diskusi dan Berbagi Pengalaman Digitalisasi Pertanian dan Perikanan Berbasis AIoT bersama Menteri Meutya berlangsung aktif. Menteri Meutya memaparkan laporan Direktur Jenderal Ekosistem Digital Edwin Hidayat tentang dampak program, lalu menanyakan langsung kepada pembudidaya perubahan yang mereka rasakan sebelum dan sesudah menggunakan teknologi.
Para pembudidaya menuturkan bahwa sebelum ada smart aerator dan sensor kualitas air, mereka tidak mengetahui kondisi kolam dan hanya mengandalkan perkiraan. Tingkat kelangsungan hidup ikan belum maksimal, dan penanganan biasanya baru dilakukan setelah ada ikan yang mati. Kini, dengan Smart Aerator Venjet dan sensor WQMS dari Venambak, mereka bisa membaca kualitas air tambak dan mengambil tindakan pencegahan sebelum penyakit atau kematian ikan terjadi.
Pembudidaya mengakui cara menggunakan aplikasi sempat menjadi tantangan. Bimbingan teknis serta pendampingan teknologi dan budidaya selama masa implementasi membuat mereka kini terbiasa menggunakan teknologi IoT secara mandiri. Mereka juga berterima kasih karena untuk pertama kalinya tambak kerapu mereka terhubung dengan internet dan teknologi digital.
“Aplikasi Venambak membuat kegiatan bertambak lebih efisien. Penjadwalan aerator bisa dilakukan secara online, data kualitas air terpantau di dashboard, dan konsumsi serta biaya energi bisa dilihat dalam satu aplikasi. Bu Menteri, mohon program digitalisasi ini dilanjutkan dan ditambah di budidaya kerapu Lamongan agar hasil budidaya kami terus meningkat,” ujar Ronal Aziz, anggota Pokdakan Bhakti Usaha 1.
Hal senada disampaikan Eni Suliswati, pembudidaya perempuan dari Pokdakan Bhakti Usaha 2. “Akses dan pemantauannya mudah, dan angka kematian turun. Sejak memakai aerator Venjet, belum ada ikan yang mati,” lanjutnya.
