Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Timur menggelar Forum Koordinasi dan Diseminasi Praktik Baik Pentokolan dan Integrated Mangrove and Sustainable Aquaculture (IMSA) pada Tambak Tradisional di Ruang Nautica III DKP Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Kamis (8/10/2026).


Forum yang berlangsung secara hybrid (luring dan daring) ini diselenggarakan guna memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, mitra konservasi, pelaku usaha, hingga kelompok petambak tradisional dalam meningkatkan produktivitas serta keberlanjutan perikanan budidaya nasional.


Potensi dan Komitmen Pengembangan Tambak Tradisional

Sektor perikanan budidaya memiliki peran vital dalam menyokong swasembada pangan, penyediaan protein hewani, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Di Jawa Timur, sebagian besar lahan tambak udang didominasi oleh sistem pengelolaan tambak tradisional.

Sebagai bentuk kontribusi nyata, DKP Jawa Timur terus menunjukkan komitmen kuat terhadap peningkatan produksi budidaya tradisional sekaligus memastikan adaptasi ekologis berjalan selaras dengan kelestarian mangrove. Fokus utamanya adalah penerapan model budidaya tradisional plus, yang mengedepankan penguatan benur melalui sistem pentokolan (nursery) sebelum ditebar ke kolam pembesaran tradisional. Pendekatan ini terbukti mampu mendongkrak tingkat kelangsungan hidup (survival rate / SR) secara signifikan di kisaran 20% hingga 30% dibanding metode konvensional sebelumnya.


Inovasi Teknologi dan Tantangan Transisi Energi Hijau

Sebagai bagian dari penerapan konsep Integrated Mangrove and Sustainable Aquaculture (IMSA) yang diperkenalkan melalui kolaborasi dengan Yayasan Blue Forest, para pemangku kepentingan menyoroti pentingnya praktik silvofishery berkelanjutan.


Dalam sesi diskusi, Venambak menyampaikan dukungan penuh terhadap pengembangan silvofishery plus yang memadukan restorasi mangrove dan budidaya tradisional plus menggunakan teknologi yang adaptif iklim. Namun, tantangan terbesar dalam sistem ini adalah menjaga peningkatan SR budidaya melalui pengoperasian aerator di tengah sulitnya akses jaringan listrik di area mangrove.


Meskipun penggunaan panel surya (solar panel) dan baterai menjadi solusi ideal bagi petambak untuk memproduksi udang rendah emisi, beban biaya investasi awal (capex) saat ini masih tergolong tinggi. Oleh karena itu, Venambak mendorong pemerintah untuk menghadirkan kebijakan afirmatif berupa subsidi atau insentif harga solar panel dan baterai bagi petambak tradisional, serta memberikan dukungan akses pasar yang lebih kuat bagi produk udang rendah emisi.





Sinergi Lintas Sektor untuk Perikanan Berkelanjutan

Kegiatan ini menghadirkan ragam narasumber dari berbagai elemen, di antaranya Cahyadi Rasyid, S.T., M.Si (Asdep Pengembangan Perikanan Budidaya Kemenko Pangan), perwakilan DKP Jatim, Budhi Wibowo sebagai Ketua Forum Udang Indonesia (FUI), Hendra Gunawan dari PT. ATINA, Bayu Romadhona, S.Pi., M.Si dari BBPBAP Jepara, serta Afan Arfandia, S.Pi dari Blue Forest.


Forum ini diikuti oleh lebih dari 40 perwakilan instansi secara luring, termasuk kementerian/lembaga vertikal, dinas perikanan daerah sentra, petambak udang daerah, akademisi Universitas Airlangga, serta inovator dan mitra pembangunan seperti Venambak, WWF Indonesia, YSAI, WVI, UNIDO, JALA, dan Shrimp Club Indonesia (SCI).


Melalui forum koordinasi ini, diharapkan tercipta rekomendasi kebijakan dan langkah aksi terpadu guna mendampingi para pembudidaya tradisional, memperkuat kelembagaan kawasan, mendorong alih teknologi hijau, serta membuka akses pasar yang luas bagi produk udang Indonesia yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.