Menuju NTB Net Zero 2050 : Catatan Tim Venambak di Sumbawa

By Zefanya•Jumat, 02 Oktober 2026 06:29

Menuju NTB Net Zero 2050 : Catatan Tim Venambak di Sumbawa

Akuakultur Rendah Karbon, Kerja Bersama Banyak Pihak

Indonesia menargetkan emisi nol bersih (net zero emission) pada 2060. Nusa Tenggara Barat memasang target lebih cepat, yaitu 2050, sepuluh tahun lebih awal dari target nasional. Sebagai bagian dari NTB, Sumbawa ikut berada di garis depan upaya ini.

Akuakultur punya peran penting dalam perjalanan tersebut. Tambak udang yang memanfaatkan energi surya, dikelola berdampingan dengan mangrove, dan dipantau dengan data yang baik bisa menekan emisi sekaligus menjaga penghidupan masyarakat pesisir.

Transformasi ini tentu tidak berjalan dari satu pihak saja. Teknologi menjadi salah satu pintu masuknya. Agar manfaatnya tumbuh dan bertahan, ia perlu ditopang perencanaan daerah, pendanaan yang berpihak pada iklim, serta keterlibatan aktif petambak dan keluarganya.

Catatan kunjungan lapangan kami berikut menggambarkan bagaimana kolaborasi itu berjalan di Sumbawa.


Tiga Lapis yang Harus Dikelola Bersamaan

Dari pengalaman kami, program akuakultur yang bertahan lama selalu menjaga tiga lapis ini sekaligus.

  1. Lapis kebijakan. Pemerintah daerah menentukan apakah sebuah inovasi bisa masuk rencana pembangunan dan tetap berjalan setelah proyek berakhir. Dukungan ini membuat manfaat teknologi terus dirasakan setelah pendampingan selesai.
  2. Lapis komunitas. Petambak adalah pengguna harian. Kebutuhan dan kendala mereka perlu didengar sejak awal, termasuk dari perempuan yang selama ini ikut bekerja di tambak tapi jarang diajak bicara.
  3. Lapis akuntabilitas. Pendana perlu melihat progres yang nyata di lapangan, bukan sekadar daftar kegiatan.

Di Venambak, ketiga lapis ini kami jalankan lewat proyek Budidaya Cerdas Iklim Udang Tradisional Plus dengan Energi Surya Terintegrasi Nursery Pond di Moyo Utara, Sumbawa, yang didukung BPDLH melalui program LCDI-ITF. Pada 21 sampai 25 September 2026, tim kami menghabiskan lima hari di Nusa Tenggara Barat untuk merajut ketiganya.


Catatan Lima Hari di Sumbawa

  1. Menyelaraskan dengan perencanaan daerah. Hari pertama kami bertemu Bappeda Provinsi NTB, lalu Baperida Kabupaten Sumbawa keesokan harinya. Agendanya sederhana: melaporkan progres proyek dan memastikan program ini sejalan dengan prioritas pembangunan daerah. Dukungan yang kami terima memberi pijakan agar teknologi di tambak tidak berjalan sendirian.
  2. Membicarakan masa setelah proyek. Pada hari ketiga, rapat bersama Pemerintah Kabupaten Sumbawa berfokus pada keberlanjutan pasca proyek. Siapa yang mengambil peran, dan bagaimana manfaatnya tetap terjaga, adalah pertanyaan yang sengaja kami bahas sejak sekarang, bukan di bulan terakhir.
  3. Melihat sistem bekerja di kolam. Hari yang sama, kami mengunjungi kolam milik Ibu Vera. Kolam ini menjadi percontohan untuk integration testing, tempat seluruh komponen sistem diuji bekerja bersama sebelum diterapkan lebih luas.
  4. Forum GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) : perempuan di balik tambak. Di banyak tambak, ibu-ibu dan istri petambak ikut mengangkut bahan bakar solar, memberi pakan, sampai membantu panen. Namun suara mereka jarang masuk ke ruang rapat. Lewat forum GEDSI, kami mendorong pelibatan yang bermakna: para perempuan menyampaikan pendapat secara langsung, termasuk soal kebutuhan infrastruktur yang ramah gender.
  5. Mendengar langsung dari Dusun Omo. Hari keempat, kami mengumpulkan petambak penerima manfaat dalam forum terbuka. Mereka menyampaikan pendapat tentang proyek, harapan, serta saran dan kebutuhan selama proyek berjalan. Masukan ini menjadi bahan langsung untuk penyesuaian di lapangan.
  6. Monitoring dan evaluasi bersama BPDLH. Hari terakhir ditutup dengan wrap up bersama BPDLH, termasuk peninjauan ke area mangrove. Kami memaparkan progres proyek LCDI-ITF (Low Carbon Development Initiative-Innovation and Technology Fund) dan kegiatan penanaman mangrove yang menjadi bagian dari pendekatan silvofishery kami.


Lima hari ini mengingatkan kami bahwa progres proyek tidak hanya diukur dari alat yang terpasang. Progres juga terlihat dari dinas yang ikut memikirkan masa depan program, petambak yang berani menyampaikan kebutuhannya, dan perempuan yang akhirnya punya ruang untuk bersuara.

Teknologi memberi petambak alat yang lebih baik. Manajemen proyek yang inklusif memastikan alat itu tetap dipakai, dirawat, dan memberi manfaat setelah kami tidak lagi setiap hari di lapangan.