Modernisasi Budidaya Kerapu: Sinergi Venambak, Komdigi, dan Pemkab Lamongan di Festival Kerapu Labuhan
By Zefanya•18 September 2026
Desa Labuhan, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan kembali menegaskan posisinya sebagai kiblat budidaya kerapu nasional melalui gelaran Festival Kerapu 2026 di area Pantai Kutang. Desa yang ditetapkan sebagai Kampung Kerapu berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan ini menjadi simbol potensi sekaligus komitmen transformasi digital akuakultur pesisir Indonesia.
Mengapa Kerapu Lamongan Begitu Potensial?
Ikan kerapu merupakan salah satu komoditas akuakultur bernilai tinggi (high-value commodity) dengan pangsa pasar ekspor yang kuat. Berdasarkan data dari Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Kabupaten Lamongan:
- Tahun 2025: Total produksi perikanan budidaya Lamongan menyentuh 46.941,85 ton dengan nilai Rp1,429 triliun. Khusus komoditas kerapu menyumbang sebesar 1.830,62 ton dengan nilai ekonomi mencapai Rp174,12 miliar.
- Tahun 2026 (s.d. Q2): Produksi kerapu telah mencapai 1.071,1 ton bernilai Rp90,95 miliar.
Tinggi dan cepatnya perputaran ekonomi kerapu ini membutuhkan manajemen lingkungan budidaya yang presisi. Fluktuasi Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen) serta perubahan kualitas air kolam yang mendadak sering kali menjadi risiko utama yang menghantui pembudidaya.
Sinergi IoT untuk Pembudidaya Kerapu Labuhan
Untuk menjawab tantangan operasional tersebut, PT Venambak Kail Dipantara berkolaborasi dengan Direktorat Jenderal Kecerdasan Artifisial dan Ekosistem Digital (Kementerian Komunikasi dan Digital / Komdigi) serta Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Lamongan. Langkah ini juga mendapatkan dukungan penuh dari Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi.
Melalui program modernisasi ini, sebanyak 100 pembudidaya kerapu di Desa Labuhan menerima bantuan perangkat berbasis Internet of Things (IoT):
- 150 Unit Smart Aerator Venjet: Perangkat aerasi cerdas yang dilengkapi fitur penjadwalan on/off otomatis serta monitoring konsumsi energi (listrik/daya) secara presisi dari Aplikasi Venambak untuk efisiensi biaya operasional.
- 5 Unit BOXVE WQMS (Water Quality Management System): Perangkat pemantau kualitas air berbasis sensor IoT untuk melakukan monitoring kondisi & parameter air secara real-time dari mana saja.
Transformasi Manajemen Tambak Jarak Jauh & Berbasis Data
Dengan teknologi Smart Aerator VENJET A37 dan BOXVE WQMS, pembudidaya tidak lagi harus bergantung sepenuhnya pada pengecekan manual di lapangan namun bisa dikendalikan dimana saja hanya dari genggaman. Integrasi sensor berbasis IoT memungkinkan:
- Pengaturan Otomatisasi & Energi: Pembudidaya dapat mengatur jadwal operasional aerator sesuai kebutuhan tambak sekaligus memantau penggunaan daya secara real-time untuk mencegah pemborosan listrik.
- Monitoring Kualitas Air Real-Time: Menampilkan data parameter kualitas air secara real-time langsung di layar ponsel pembudidaya melalui perangkat BOXVE WQMS.
Inisiatif ini bukan sekadar penyaluran alat, melainkan langkah nyata menjadikan kawasan budidaya kerapu Lamongan tangguh secara teknis dan adaptif terhadap iklim (Climate-Smart Aquaculture).
Siap Modernisasi Tambak Anda?
Kunci sukses budidaya yang berkelanjutan dimulai dari pemantauan air yang akurat dan efisiensi operasional aerasi yang terukur. Pelajari bagaimana rangkaian teknologi Venjet dan BOXVE WQMS dapat membantu mengoptimalkan hasil panen tambak Anda.
