Nursery Pond: Fase Singkat yang Menentukan Hasil Panen Tambak Udang

By ZefanyaMinggu, 30 Agustus 2026 10:10

Nursery Pond: Fase Singkat yang Menentukan Hasil Panen Tambak Udang

Kegagalan panen di tambak tradisional biasanya sudah dimulai jauh sebelum masa panen tiba. Benur dipindahkan langsung dari hatchery yang suhunya stabil dan lingkungannya steril ke petak tambak terbuka seluas ribuan meter persegi yang salinitas, suhu, dan pH-nya berubah mengikuti cuaca. Kematian di minggu pertama nyaris tidak terlihat dari pematang, dan baru terbaca saat panen ketika hasilnya jauh di bawah perhitungan awal.

Budidaya tradisional di Indonesia, berdasarkan data dari Forum Udang Indonesia potensi lahannya mencapai sekitar 250 ribu hektare, umumnya hanya membukukan tingkat kelangsungan hidup 10 sampai 20 persen. Artinya dari sepuluh benur yang ditebar, delapan sampai sembilan ekor tidak pernah sampai ke timbangan.

Solusinya sebenarnya sudah lama dikenal di dunia budidaya udang, hanya belum banyak terjangkau petambak kecil: nursery pond.

Apa Itu Nursery Pond

Nursery pond, atau kolam pendederan, adalah fase antara hatchery dan kolam pembesaran. Benur tidak langsung ditebar ke petak besar, melainkan dipelihara lebih dulu di wadah kecil terkontrol dengan kepadatan tinggi selama beberapa minggu. Setelah tumbuh menjadi benur yang lebih besar dan lebih kuat, barulah dipindahkan ke kolam pembesaran.

Prinsipnya sederhana. Alih-alih meminta benur beradaptasi sendiri di lingkungan yang tidak terkendali, adaptasi itu dipindahkan ke ruang yang bisa diawasi penuh.


Manfaat yang Terukur

Manfaat pertama adalah penurunan stres. Pendederan mengurangi tekanan pada benur saat berpindah dari lingkungan hatchery yang tertutup ke tambak terbuka, sehingga daya tahannya terhadap virus dan bakteri ikut meningkat. Udang vaname secara alami hidup di perairan payau, jadi penyesuaian bertahap ini bukan kemewahan melainkan kebutuhan biologis.

Manfaat kedua adalah biosekuriti. Fase nursery berfungsi sebagai area karantina. Ketika penyakit seperti EMS/AHPND dan White Spot Syndrome Virus jadi ancaman rutin, menebar benur berukuran lebih besar jauh lebih aman dibanding menebar post-larva yang masih rentan. Global Seafood Alliance mencatat sistem dua tahap seperti ini secara konsisten menghasilkan produksi dan sintasan lebih tinggi per satuan luas dibanding sistem satu tahap.

Manfaat ketiga adalah kepastian data. Petambak yang menebar langsung dari hatchery tidak pernah benar-benar tahu berapa ekor yang masih hidup di dalam petaknya. Lewat nursery, jumlah dan kondisi benur bisa dihitung jauh lebih akurat sebelum masuk kolam pembesaran. Ini berdampak langsung pada program pakan, komponen biaya terbesar dalam satu siklus.

Manfaat keempat, dan ini yang paling terasa di neraca keuangan, adalah waktu. Menebar benur hasil pendederan memangkas durasi pemeliharaan di kolam pembesaran sekitar 20 sampai 30 hari. Siklus yang lebih pendek berarti jumlah panen per tahun bisa bertambah tanpa perlu membuka lahan baru. Studi perbandingan terhadap 120 petambak di India yang terbit di Aquaculture International menemukan integrasi nursery membuat usaha budidaya lebih tahan penyakit, lebih menguntungkan, dan lebih berkelanjutan secara signifikan.

Di titik inilah pendekatan nursery bertemu tantangan yang lebih besar di Indonesia: energi.


Kendala Energi di Tambak Tradisional

Nursery pond menuntut aerasi kontinu, sirkulasi air, dan pengelolaan kualitas air yang ketat. Semua itu butuh listrik. Padahal mayoritas lahan tambak tradisional belum teraliri jaringan PLN, sementara petaknya luas, berkisar 2.500 meter persegi sampai 1 hektare. Petambak yang ingin memasang aerator harus menyediakan penggerak berbahan bakar bensin atau solar, yang berarti tambahan biaya sekaligus tambahan emisi.

Menambahkan fase nursery ke tambak tradisional tanpa menyelesaikan persoalan energi berarti hanya memindahkan masalah.


Nursery Center Sumbawa: Pendederan Bertenaga Surya

Inilah yang mendasari desain Nursery Center Venambak di Kecamatan Moyo Utara, Kabupaten Sumbawa, yang dikembangkan melalui Program LCDI-ITF bersama dukungan BPDLH.

Fasilitas seluas 1.624 meter persegi ini terdiri dari 40 kolam bundar berdiameter 4 meter dengan pola super intensif pada kepadatan 2.000 ekor per meter persegi. Benur dipelihara di sini selama 15 sampai 25 hari sebelum dipindahkan ke 40 petak kolam pembesaran milik petambak mitra di sekitar Desa Penyaring.

Sistem aerasi, penerangan, dan pompa transfer air di Nursery Center berjalan dengan bauran energi 70 persen tenaga surya dan 30 persen listrik PLN. Porsi PLN dipertahankan, bukan sebagai kompromi melainkan sebagai manajemen risiko: pendederan tidak boleh berhenti hanya karena intensitas matahari turun beberapa hari.

Nursery Center juga dilengkapi alat penghitung benur berbasis AI yang masih dalam versi beta. Perhitungan dilakukan dua kali, saat benur datang dari hatchery dan sebelum masuk kolam pembesaran, agar program pakan bisa disusun berdasarkan populasi yang sebenarnya, bukan asumsi.

Di kolam pembesaran, benur ditebar pada kepadatan tradisional 1 sampai 10 ekor per meter persegi, ditopang aerator autoVENJET bertenaga baterai yang bergerak otonom mengelilingi kolam selama 12 jam pada malam hari, pelontar pakan FEEDERVE PV bertenaga surya, serta pemantauan kualitas air melalui BOXVE WQMS. Mangrove dan rumput laut di sisi tandon air masuk berfungsi sebagai biofiltrasi alami.

Target rancangannya adalah memangkas siklus di kolam pembesaran dari sekitar tiga bulan menjadi dua bulan, menekan FCR ke kisaran 1,0 sampai 1,1, dan menaikkan tingkat kelangsungan hidup sebesar 50 sampai 70 persen.


Nursery Sebagai Titik Awal Udang Rendah Karbon

Nursery Center bukan proyek yang berdiri sendiri. Ia adalah tahap dari model Budidaya Cerdas Iklim Udang Tradisional Plus dengan Energi Surya Terintegrasi Nursery Pond yang Venambak jalankan di Sumbawa melalui Program LCDI-ITF, dan justru di tahap inilah penurunan karbon mulai terjadi sebelum udang menyentuh kolam pembesaran.

Penekanan emisinya bekerja berlapis. Di nursery, dominasi tenaga surya menekan emisi dibanding operasional yang sepenuhnya bergantung listrik jaringan. Di kolam pembesaran, benur yang sudah kuat memperpendek siklus dari tiga bulan menjadi dua bulan, yang berarti lebih sedikit hari konsumsi energi dan lebih sedikit pakan terbuang. Aerator AUTOVE dan pelontar pakan FEEDERVE PV bisa dioperasikan tanpa genset diesel, yang selama ini jadi penggerak energi di lokasi tanpa jaringan PLN. Aerasi malam hari menekan pembentukan amonia, H2S, dan gas metana dari endapan organik di dasar kolam tua. Terakhir, sabuk mangrove di sisi tandon bekerja ganda sebagai penyaring air sekaligus penyimpan karbon biru. 

Setiap lapisan itu kecil jika berdiri sendiri. Digabungkan dalam satu siklus produksi, arahnya jelas: udang yang jejak karbonnya bisa ditelusuri dari benur sampai panen.

Arah ini sejalan dengan komitmen daerah tempat proyek ini berdiri. Nusa Tenggara Barat menargetkan Net Zero Emission pada 2050, dengan peta jalan yang diperkuat melalui Peraturan Gubernur NTB Nomor 13 Tahun 2024 tentang Pengembangan NTB Energi Hijau, serta target antara berupa pembangkitan listrik sepenuhnya dari energi terbarukan pada 2040. Selama ini transisi energi kerap dibicarakan pada skala pembangkit dan kendaraan listrik. Nursery Center Sumbawa menunjukkan bahwa jalur yang sama bisa ditempuh dari sektor budidaya, di lahan tambak yang selama ini justru dianggap sulit dijangkau.

Inilah yang kami maksud dengan low carbon shrimp, dan Sumbawa adalah pembuktian pertamanya.